Friday, March 16, 2012

Kajian Stilistika Puisi “CINTAKU JAUH DI PULAU”


Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri,
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Chairil Anwar 1946


Analisis Puisi
Chairil Anwar merupakan salah satu penyair angkatan ’45 yang identik dengan kata-kata konkret dan mengandung metafor di setiap puisi-puisi ciptaanya. Kata-kata yang ada pada setiap kalimat dalam syair-syair ciptaannya memiliki irama dan makna yang mendalam bagi siapapun yang membacanya. Puisi ciptaanya yang sangat terkenal adalah puisi yang berjudul “Aku”. Namun, tidak terkecuali pada puisi yang berjudul “Cintaku Jauh di Pulau “. Puisi ini digarap dengan tidak kalah menarik dan bermetafor oleh sang maestro kita.
Tema, irama (ritme), dan estetika yang tersirat dalam puisi ini tersembunyi dalam kata-kata metafor yang mewakilkan simbol-simbol tertentu. Unsur metafor dan kata-kata konkret yang begitu kuat serta mendalam telah menjadi ciri khas gaya bahasa yang digunakan oleh Chairil dalam melukiskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di setiap puisinya. Berikut adalah sekelumit kajian puisi tersebut melalui stilistika.
Tema
Secara keseluruhan puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar secara sekilas mengusung tema kasih tak sampai. Hal ini terlihat jelas pada kata-kata di setiap baitnya yang bernada pesimis dan penyesalan. Penyair menuliskan kesedihan karena ajal terlalu cepat menjemput, sebelum si aku lirik berhasil mendapatkan cintanya. Seseorang yang berada jauh dari dirinya. Penyesalan tersebut ditunjukan pada bait ke-4, berikut ini:
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Namun, bila kita telaah lebih dalam, puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” ciptaan Chairil ini lebih menyiratkan penyesalan seseorang atas segala tindakan karena telah menyia-nyiakan wanita yang sangat dicintai, dan ketika ia sadar akan cinta dan kasih sayangnya yang sejati, ajal terlebih
dahulu menjemputnya.
Secara keseluruhan makna yang terkandung dalam puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” adalah sekelumit gambaran hidup sang penyair. Mengapa penulis mengatakan sepeti ini? Bila kita tilik tentang bagaimana kehidupan dari sang penyair, dalam hal ini Chairil, ia adalah seorang penyair muda yang sangat sukses dan memiliki kemampuan hebat. Namun, dalam kehidupan bercinta dia adalah seorang yang dianggapnya sendiri “binatang jalang”. Sebuah sebutan untuk dirinya sendiri ketika menyadari segala kesalahannya. Berdasakan kisah hidupnya pula, penulis meresepsikan sebuah karya dengan judul “Cintaku Jauh Di Pulau” adalah sebuah cerita tentang bagaimana si Chairil mendapatkan hikmah dari penyakit yang dideritanya, yaitu sebuah jalan yang selama ia sehat tak pernah ditemukan. Maksudnya, ketika cahiril menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan akibat seringnya berganti-ganti pasangan, ia menyadari bahwa hanya ada satu gadis yang benar-benar ia cintai. Namun, karena ia tahu bahwa ajal akan cepat menjemputnya, ia merasakan ada sebuah jarak yang membentang luas. Dalam puisi dikatakan cintaku jauh di pulau. Kata yang mewakili keputusasaannya terhadap penyakit yang tak dapat dilawannya.
Irama (Ritme)
Irama (Ritme) berhubungan dengan pengulangan bunyi kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi (khususnya puisi lama), irama berupa pengulangan yang teratur suatu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama dapat juga berarti pergantian lemah- lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau” ini, penyair menciptakan pengulangan frase Jauh di Pulau pada awal puisi dan sebagai penutup pada bait terakhir. Frase Jauh di Pulau tidak hanya digunakan untuk memperindah puisi tersebut, tetapi juga untuk memperkuat makna yang
tersirat dari puisi itu sendiri.
Rima dan Tipografi
Persamaan vocal pada baris akhir sangat dipentingkan pada puisi lama dan puisi modern sampai masa Chairil Anwar. Hal ini terlihat jelas dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar. Rima yang berumus (a-b) dan (a-b-a-b) tampak jelas pada puisi tersebut.
Bait pertama dan bait terakhir dituliskan oleh penyair dengan rima (a-b), yakniCintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri,. Kemudian pada bait terakhir berbunyi Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku
mati, dia mati iseng sendiri. Selain itu, pada bait ke- 2,3,dan 4 ditampilkan
penyair dengan persamaan vocal akhir yang berumus (a-b-a-b). persamaan
tersebut terdapat pada bait ke-2, misalnya.
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Chairil Anwar menuliskan puisi ini dengan delapan buah kalimat yang indah. Setiap kalimat dijadikannya dua buah larik yang saling mendukung dan bermakna sangat dalam. Dari delapan kalimat, Chairil membaginya kembali menjadi lima buah bait yang sangat proporsional, yaitu dua kalimat untuk bait pertama dan dua kalimat untuk bait terakhir. Secara jenis puisi karya Chairil ini adalah sebuah karya puisi modern yang tidak lagi terpaku pada pakem puisi lama, yaitu satu bait empat larik. Jadi Chairil telah keluar dari pakem tersebut dengan bukti puisi-puisinya.
Kalimat-kalimat yang menjadi bait proporsional membentuk tipografi yang sangat seimbang yang memberikan keindahan tersendiri dalam penyajian hasil tulisannya itu. Sebuah gaya tipogarfi puisi yang seimbang dan menarik jika kita menyadari. Ini dapt terlihat jika kita
memisahkannya seperti berikut;
Kalimat 1:
Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri,
Kalimat 2:
Perahu melancar, bulan memancar, ddi leher kukalungkan oleh-oleh buat
si pacar.
Kalimat 3:
angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya.
Kalimat 4:
Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala
melaju
Kalimat 5:
Ajal bertakhta, sambil berkata:“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Kalimat 6:
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan
merapuh!
Kalimat 7:
Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan
cintaku?!
Kalimat 8:
Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penyair—Chairil Anwar—dapat ditinjau dari ketiga unsur yang telah diuraiankan di atas. Ketiga unsur tersebut adalah tema, ritme, dan rima dan tipografi yang terdapat dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau”. Mungkin masih bisa dikaji lebih banyal lagi keindahan dan keunikan gaya bahasa yang dihadirkan Chairil dalam puisinya itu. Bila diingat sastra adalah lautan informasi yang berisikan banyak sekali ilmu dan apapun yang ada di dalamnya yang dapat kita cari. Namun, penulis dalam kajian ini hanya mengkajinya seperti yang telah tertera di atas.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment